Sejarah

Sejarah GPIB Menara Kasih

1980 - 2022

1980
Awal Sejarah
Kebutuhan Jemaat

Perjalanan sejarah Jemaat GPIB Menara Kasih dimulai pada sekitar tahun 1980, ketika bisnis properti dan pengembangan kawasan hunian baru di sekitar wilayah Bekasi sedang marak.  Termasuk di antaranya perumahan-perumahan baru yang terus menjamur di wilayah Jatimekar, Jatikramat, Jatimakmur, Angkasapuri, dan Jatiasih.  Adanya kawasan pemukiman baru tersebut berimbas pada banyaknya pendatang dari wilayah  Jakarta atau dari tempat lain yang menjadi  warga baru di wilayah-wilayah tersebut.
Sebagian dari warga baru tersebut merupakan jemaat Kristiani dari berbagai denominasi gereja dan kebanyakan dari mereka bermukim di perumahan KODAU V Rawabogo di Jatimekar.  Ketika itu di perumahan KODAU tercatat ada 36 KK warga Kristiani dari berbagai denominasi gereja.  Kehadiran mereka tentunya membutuhkan suatu pelayanan, pembinaan, dan sarana ibadah di tempat yang baru.

Oktober 1982
Jajak Pendapat
Oikumene atau GPIB

Mengingat belum tersedianya sarana ibadah bagi umat Kristen di wilayah itu, maka sebagian besar warga Kristiani di sana melakukan ibadah di gereja GPIB Pelita di Lobangbuaya yang merupakan gereja GPIB terdekat.  Dan pada bulan Oktober 1982 Majelis Jemaat GPIB Pelita DKI Jakarta membuka Pos Kebaktian di Jatimekar, bertempat di rumah keluarga Pnt Susilo Hadi di Kompleks KODAU Rawabogo.   Pos Kebaktian tersebut diresmikan oleh Pdt MK Tumakaka dari GPIB Pelita Lobangbuaya dan disaksikan oleh Majelis Sinode GPIB yang diwakili oleh Pnt Alex Paath.  Namun, kegiatan pelayanan Ibadah tersebut tidak dapat berlangsung lama karena sebagian jemaat menghendaki agar kegiatan Ibadah dilayani oleh Gereja Protestan Oikumene Halim, sementara jemaat lain tetap menghendaki pelayanan dari GPIB.
Berkaitan dengan ketidakpuasan dari sebagian jemaat tersebut, atas saran dri perwira rohani KODAU V, Pdt J Pondaag, maka pada bulan Februari 1983 diadakan pertemuan warga Kristen Jatimekar.  Dari pertemuan itu disepakati untuk membentuk ‘Persekutuan Umat Kristen Rawabogo’ di Jatimekar.  Namun, karena dalam perjalanannya keadaan pelayanan cenderung mengalami kemunduran, dan hubungan antar umat Kristen sendiri mengarah kepada disintegrasi jemaat, maka melalui beberapa kali pertemuan Umat Kristen Rawabogo disepakati untuk mengadakan jajak pendapat guna memilih denominasi gereja sebagai alternatif pemecahan masalah.  Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 2/3 dari 36 KK warga Kristen memilih denominasi gereja GPIB, 3 KK memilih GKP, dan sebagian lainnya memilih menjadi anggota jemaat GKO Halim.

10 Juni 1985
Menjadi Anggota GPIB
Diterima dilayani oleh GPIB

Berdasarkan hasil jajak pendapat itulah, pengurus Persekutuan Umat Kristen Rawabogo kemudian mengirim surat ke Majelis Sinode GPIB pada tanggal 22 Mei 1985 dan 6 Juni 1985 dengan maksud agar Majelis Sinode GPIB dapat menerima Persekutuan Umat Kristen Rawabogo sebagai bagian dari GPIB.  Oleh karena itu pada 7 Juni 1985 bertempat di kantor Majelis Sinode GPIB diadakan pertemuan antara Majelis Sinode dengan pengurus persekutuan dipimpin Sekretaris I Majelis Sinode Pdt C. Wairata STh.  Berdasarkan hasil rapat tersebut Majelis Sinode mengirimkan surat No. 5007/85/MS.XIII tanggal 10 Juni 1985, yang intinya menerima Persekutuan Umat Kristen di Rawabogo unuk dilayani GPIB.   Dan pada Desember 1985 dilakukan penataan wilayah pelayanan yang meliputi 4 Sektor Pelayanan dengan jumlah anggota 42 KK.
Selain Persekutuan Umat Kristen GPIB, pada 8 September 1985 didirikan pula Pos Kebaktian Sektor X GPIB Pelita di wilayah Jatiasih dengan jumlah anggota 17 KK dan 2 majelis pelayanan yaitu Pnt A Tumade dan Dkn WJ Runtukahu.
Dengan berdirinya Pos Kebaktian tersebut, maka di wilayah Jatimekar dan sekitarnya telah berdiri dua bentuk pelayanan yang berinduk pada GPIB Pelita DKI Jakarta, yaitu Persekutuan Umat Kristen GPIB Jatimekar dan Pos Kebaktian Sektor X GPIB Pelita di Jatiasih.  Oleh karena itu pada 26 Juli 1986 Majelis Sinode mempersatukan kedua bentuk pelayanan tersebut menjadi Pos Pelayanan GPIB Pelita DKI Jakarta di Jatimekar dan Sekitarnya berdasarkan Surat Majelis Sinode GPIB No. 6348/86/MS.XIII.

01 April 1990
Persiapan Pelembagaan GPIB Menara Kasih
Menuju Jemaat Mandiri

Setelah itu, berdasarkan Surat Majelis Jemaat GPIB Pelita DKI Jakarta No. 082/MJP/UM/VIII/87 tanggal 7 Agustus 1987, Pos Pelayanan Jemaat GPIB Pelita di Jatimekar-Bekasi ditingkatkan statusnya menjadi Bagian Jemaat (BaJem) GPIB Pelita di Jatimekar-Bekasi dengan jumlah anggota Jemaat 99KK terbagi dalam 4 sektor pelayanan.  Kebaktian peresmian Bakal Jemaat tersebut diadakan pada hari Minggu, 2 Agustus 1987 di gedung PLPP Sinar Kasih di Bojongrawalele Pondokgede dipimpin Pdt Ny Chr. Lekahena SmTh.
Dalam perkembangannya, pengembangan dan pelayanan Bagian Jemaat GPIB Pelita di Jatimekar dan sekitarnya dipandang perlu ditangani secara efisien dan efektif dalam rangka pembangunan  Jemaat Misioner dan penatalayanan jemaat secara lebih terarah.  Oleh karena itu dipandang perlu untuk melembagakan Bagian Jemaat tersebut menjadi satu Jemaat GPIB yang dewasa dan mandiri.
Dengan pemahaman tersebut dan didukung potensi BaJem menuju pendewasaan dan kemandirian, maka pada tanggal 1 April 1990 Majelis Sinode GPIB menerbitkan SK No. 2380/90/MS.XIV/Kpts perihal Pelembagaan Bagian Jemaat GPIB Menara Kasih dari Jemaat GPIB Pelita di DKI Jakarta Menjadi Satu Jemaat GPIB Yang Dewasa.  Dengan demikian maka sejak 1 April 1990 GPIB Menara Kasih di Jatiasih – Bekasi resmi berdiri sebagai Jemaat GPIB yang ke-193, dan tanggal penerbitan SK Majelis Sinode itulah yang hingga saat ini diperingati sebagai HUT Jemaat GPIB Menara Kasih Jatiasih.
Kebaktian Pendewasaan dan Pelembagaan Jemaat GPIB Menara Kasih di Jatiasih – Bekasi dilakukan pada hari Minggu, 1 April 1990 di Gedung Serba Guna Jemaat GPIB Pelita di Lobangbuaya, Jakarta Timur Jatimekar.  Kebaktian tersebut dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Sinode Pdt B Simauw STh, dengan pemberitaan Firman dari 1 Korintus 15 : 58 sebagai berikut:
Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.

01 April 1990
Berdirinya GPIB Menara Kasih bekasi
GPIB Menara Kasih

Nama ‘Menara Kasih’ menempel di jemaat yang baru didirikan itu dipilih dari 7 usulan nama yang masuk ke Panitia Persiapan Pendewasaan Bajem GPIB Pelita di Jatimekar.  Nama tersebut mengandung pemahaman bahwa:
KASIH yang adalah inti ajaran Kristus, hendaknya menjadi MENARA atau mercusuar yang mampu memandu semua ‘kapal’ yang sedang berlayar dalam laut kehidupan ini, sehingga ‘salah jalan’ atau ‘tersesat’ atau terjebak dalam tebing dan karang bisa dihindari.  Di samping itu, KASIH juga diharapkan menjadi MENARA dalam arti ‘panji pemandu’ tempat barisan banyak orang mengikutinya, atau menjadi ‘panji pelindung’, di mana setiap hati yang hancur dari orang yang berdosa mendapat pengampunan.  Bersekutu dalam Jemaat ‘Menara Kasih’ diharapkan agar setiap jemaat mampu menjadi pemandu dan menjadi pengampun bagi sesama, sebab panji yang tinggi dipasang di menara adalah KASIH”.

Pada saat dilembagakan, Jemaat GPIB Menara Kasih memiliki  179  KK yang tersebar di 9  (sembilan) Sektor Pelayanan dengan wilayah pelayanan berbatasan dengan wilayah pelayanan GPIB Gloria di sebelah timur, GPIB Jatipon di sebelah utara, dan GPIB Pelita Lobangbuaya di  sebelah barat. 

Nama ‘Menara Kasih’ menempel di jemaat yang baru didirikan itu dipilih dari 7 usulan nama yang masuk ke Panitia Persiapan Pendewasaan Bajem GPIB Pelita di Jatimekar.  Nama tersebut mengandung pemahaman bahwa:
KASIH yang adalah inti ajaran Kristus, hendaknya menjadi MENARA atau mercusuar yang mampu memandu semua ‘kapal’ yang sedang berlayar dalam laut kehidupan ini, sehingga ‘salah jalan’ atau ‘tersesat’ atau terjebak dalam tebing dan karang bisa dihindari.  Di samping itu, KASIH juga diharapkan menjadi MENARA dalam arti ‘panji pemandu’ tempat barisan banyak orang mengikutinya, atau menjadi ‘panji pelindung’, di mana setiap hati yang hancur dari orang yang berdosa mendapat pengampunan.  Bersekutu dalam Jemaat ‘Menara Kasih’ diharapkan agar setiap jemaat mampu menjadi pemandu dan menjadi pengampun bagi sesama, sebab panji yang tinggi dipasang di menara adalah KASIH”.

Pada saat dilembagakan, Jemaat GPIB Menara Kasih memiliki  179  KK yang tersebar di 9  (sembilan) Sektor Pelayanan dengan wilayah pelayanan berbatasan dengan wilayah pelayanan GPIB Gloria di sebelah timur, GPIB Jatipon di sebelah utara, dan GPIB Pelita Lobangbuaya di  sebelah barat.

Saat ini Jemaat GPIB Menara Kasih Bekasi telah berkembang menjadi 14 Sektor Pelayanan.

Demikian sejarah singkat Jemaat GPIB Menara Kasih Jatiasih – Bekasi.***

Disarikan dari buku:
UTUSLAH AKU – 
Sejarah Jemaat GPIB Menara Kasih Jatiasih-Bekasi 1986-2000
Penulis: Tim Penyusun Sejarah
Penerbit: Majelis Jemaat GPIB Menara Kasih Jatiasih.  Bekasi, 2001